Categories
Renungan

Renungan Warta – 11 Oktober 2020

Jalan Panjang Pemulihan

Perjamuan Kudus

“Perbuatlah ini, menjadi peringatan akan Aku!

(1 Korintus 11: 17-29)

Ketika malaikat Gabriel datang menyampaikan berita bahwa Maria akan mengandung dari Roh Kudus, Maria disapa sebagai “yang dikaruniai”. Perhatikan penggunaan kata “dikaruniai” dalam konteks ini: Kita sering mengartikan kata menerima karunia, sebagai menerima suatu berkat, yang menyenangkan, melegakan, menggembirakan. Tetapi disini, Maria menerima karunia dalam bentuk tanggung-jawab yang besar.

Peristiwa Natal adalah karunia besar bagi umat manusia, karena Tuhan mau hadir ke tengah dunia menjadi manusia. Namun Tuhan juga mau memakai kita umat-Nya untuk turut serta terlibat di dalamnya. Seperti Maria diberi panggilan untuk mengandung Anak Allah, demikian juga setiap kita memiliki panggilan khusus yang Tuhan karuniakan kepada kita. Dan Maria menyadari itu sebagai kehendak Allah, sehingga merespon dengan indah: “Sesungguh-nya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”

Perhatikan 1 Petrus 2: 9 yang berbunyi: “Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung.” Ketika seseorang terpanggil, dan menyadari bahwa pekerjaan pelayanan yang ia lakukan adalah bagian dari kehendak Allah, maka dengan itu ia menjadi karunia bagi sesama-nya. Maka pada masa menyambut Natal ini, marilah kita terpanggil untuk menjadi kasih karunia bagi orang-orang yang ada di sekitar kita. Tuhan memberkati, Amin.

Categories
Renungan

Renungan Warta – 2 Agustus 2020

Intisari Hukum Tuhan

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”
(Matius 22: 37-40)

Di dalam Alkitab kita menemukan begitu banyak ayat Firman Tuhan yang menjadi hukum bagi kehidupan kita. Namun bagaimanakah kita bisa mengingat, apalagi menjalani peraturan yang sedemikian banyak? Belum lagi kalau kita salah memahami dan terjebak dalam sikap legalistik seperti yang dilakukan oleh orang Farisi pada jaman Tuhan Yesus.

Melalui hukum kasih disini, Tuhan Yesus sedang mengajarkan kepada kita bahwa intisari dari segala peraturan Tuhan adalah tentang kasih. Bagaimana kita bisa menyatakan hidup yang mengasihi Allah, dan sekaligus juga mengasihi sesama manusia. Itulah yang menjadi prinsip utama, yang mendasari seluruh aturan hukum dari Tuhan kepada umat-Nya. Apabila kita melihat Sepuluh Hukum Tuhan (Keluaran 20:2-17), maka kita akan melihat dua aspek utama ini tercakup di dalamnya. Intisari dari Taurat adalah mengasihi Tuhan Allah, dan mengasihi sesama manusia! Inilah prinsip utama dari segala aturan kehidupan orang beriman.

Oleh karena itu, ketimbang terjebak dalam polemik mengenai detil-detil aturan hukum. Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita untuk memahami jiwa dari hukum tersebut. Sehingga, yang perlu kita renungkan ketika menjalani kehidupan sebagai pengikut Kristus adalah: Apakah yang kulakukan ini mencerminkan kasih kita kepada Tuhan dan kepada sesama? Keduanya adalah aspek yang harus berjalan selaras. Maksudnya adalah, ungkapan kasih kita kepada Tuhan tidak boleh mengabaikan kasih kita kepada sesama. Dan sebaliknya, kita tidak bisa menyatakan kasih kepada sesama, namun mengabaikan kasih kita kepada Tuhan.

Inilah intisari hukum Tuhan dalam kehidupan kita. Biarlah kita semakin berhikmat dalam memahami jiwa dari hukum Tuhan untuk kita jalankan. Tuhan memberkati. Amin.

Categories
Renungan

Renungan Warta – 26 Juli 2020

Kelegaan Dalam Tuhan

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.
(Matius 11: 28-29)

Setiap manusia memikul beban kehidupan: beban tersebut dapat berupa beban fisik maupun beban pikiran. Dan dua-duanya membuat kita menjadi letih lesu dan merasa tertekan beratnya beban tersebut. Kepada kita, Tuhan Yesus memanggil dan menawarkan kelegaan yang sejati.

Yang menarik adalah Tuhan justru menawarkan kepada kita suatu kuk! Dengan kata lain, Tuhan justru mau menggantikan beban kita dengan beban yang dari Dia! Kuk adalah sebuah palang yang dikenakan pada seekor hewan, agar dengan kuk tersebut ia dapat menarik gerobak, bajak, ataupun benda lainnya. Artinya, Tuhan mau memberikan beban yang tepat kepada kita, agar kita dapat memenuhi peran dan tujuan yang Ia rancangkan.

“Dan belajarlah pada-Ku”: Tuhan Yesus mengajak kita untuk belajar dari sikap-Nya dalam menanggung beban, yaitu dalam kelemah-lembutan dan kerendahan hati. Dalam bahasa Yunani-nya, kata lemah-lembut disini diartikan dengan kata “jinak”. Maksudnya adalah tidak berontak. Sementara kata rendah hati dalam bahasa Yunani-nya dapat diartikan dengan kata “ikhlas”. Bersediakah kita menjalani kehidupan memikul kuk yang Tuhan kenakan kepada kita, dengan tidak berontak dan ikhlas?

Seperti seorang personal trainer (PT) yang handal, akan tahu memberikan beban yang tepat sesuai dengan kesanggupan dan sesuai dengan otot yang ingin dibentuk. Demikian juga dengan Tuhan: Percayalah, bahwa setiap beban yang Tuhan berikan dalam hidup ini, berfungsi untuk melatih otot-otot rohani kita agar kita menjadi semakin mampu menjalani peran dan tujuan yang Tuhan rancangkan untuk damai sejahtera kita.

Tuhan memberkati, Amin!

Categories
Renungan

Renungan Warta – 3 November 2019

Seri Doa Bapa Kami #1

Karena itu berdoalah demikian:
“Bapa kami yang di sorga,  Dikuduskanlah nama-Mu,
datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.”

            Dalam Matius 6: 9-13 kita menemukan sebuah contoh doa yang Tuhan Yesus ajarkan kepada murid-murid-Nya. Doa ini sering kita kenal dengan nama: Doa Bapa Kami. Sama seperti judul lagu dalam buku nyanyian gereja seringkali diambil dari bunyi kalimat pertamanya, demikian juga dalam bahasa Indonesia nama doa ini diambil dari dua kata pertamanya yang berbunyi “Bapa kami …”. Dalam bahasa Inggris seringkali dikenal dengan nama The Lord’s Prayer. Namun dalam bahasa Latin, penamaannya juga dikenal dari dua kata pertama yang terdapat dalam doa tersebut: Pater Noster.

            Doa yang senantiasa dinaikkan dalam ibadah-ibadah, menjadi salah satu bahan “hafalan” di kelas pendidikan agama Kristen, doa yang Tuhan Yesus sendiri sampaikan secara langsung kepada murid-murid-Nya ketika Ia membahas tentang bagaimana kita seharusnya berdoa. Nah, melalui kotbah sepanjang bulan November ini kita akan membahas tentang doa yang sangat terkenal ini.

Bapa kami yang di sorga

            Ada keintiman dalam sapaan kita terhadap Tuhan. Ia berelasi dengan kita sebagai Bapa, dan kita adalah anak-anak-Nya. Dalam Ulangan 8:5 kita menemukan keterangan seperti demikian: “Maka haruslah engkau insaf, bahwa TUHAN, Allahmu, mengajari engkau seperti seseorang mengajari anaknya.”

            Relasi kita dengan Tuhan Allah, adalah sebuah relasi yang intim. Dan doa yang kita sampaikan kepada-Nya, mengalir seperti tuturan seorang anak kepada orang-tuanya, yang memadukan hubungan cinta kasih, hormat, gentar,namun juga dalam ketulusan apa adanya.

Dikuduskanlah nama-Mu

            Ketika kita mengatakan dikuduskanlah nama Tuhan, bukan berarti Tuhan tidak kudus dan membutuhkan dukungan dari kita agar Ia menjadi tambah kudus. Kata “dikuduskanlah” disini merupakan sebuah seruan agar kita menjadi orang-orang yang menyadari, menghargai, memperlakukan nama Allah sebagai sesuatu yang kudus. Keluaran 20:7            “Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.”

            Ada keseimbangan yang perlu kita jaga ketika kita menyapa Tuhan dalam doa: di satu sisi, ada kedekatan yang sangat personal (Ia sebagai Bapa), tetapi di sisi lain kita juga perlu mengakui kemuliaan Nama-Nya (Kudus).

            Jadi, Doa Bapa Kami diawali bukan hanya dengan kata-kata indah semata, namun sebuah pengingat juga tentang sikap ketika kita memulai sebuah doa: menyadari ada keseimbangan antara kedekatan personal dengan Tuhan, dan hormat akan kemuliaan-Nya.

Categories
Renungan

Renungan Warta – 27 Oktober 2019

Tuhan Mengenal Kita

Lukas 19: 1-10

Siapa yang tidak kenal Zakheus? Ketika membaca kisah Lukas, sekilas kita membayangkan sosok manusia yang menyebalkan. Secara fisik, ia tidak menarik: tubuhnya pendek. Secara ekonomi, ia menjadi sumber iri-hati banyak orang karena kekayaannya. Belum lagi jabatannya sebagai kepala pemungut cukai!

Seorang pemungut cukai bukanlah orang sembarangan, karena untuk menduduki jabatan itu seseorang harus memiliki kemampuan menulis, membaca, dan berhitung lebih daripada orang kebanyakan. Selain itu, mereka juga harus memiliki ketrampilan berdiplomasi dengan pejabat pemerintah, maupun dengan rakyat biasa.

Tetapi bagi masyarakat Yahudi di abad pertama, seorang pemungut cukai terutama dibenci karena mereka dipandang sebagai pengkhianat bangsa! Untuk menarik pajak (pajak kepala dan pajak tanah) dari wilayah jajahannya, kerajaan Romawi mempekerjakan orang-orang lokal. Itulah sebabnya pemungut cukai mendapat reputasi yang sangat buruk di tengah masyarakat. Belum lagi, ada sebagian dari mereka yang berperilaku korup, dengan menarik uang lebih besar daripada tarif yang semestinya.

Tetapi apakah Zakheus seburuk kesan kebanyakan orang saat itu? Kalau kita membaca kisah ini kembali, justru kita akan menemukan gambaran yang sebaliknya. Zakheus begitu bertekad untuk melihat Yesus, sampai ia memanjat pohon. Dan ketika Yesus memanggil namanya, betapa ia bersukacita. Bahkan, ia mendedikasikan setengah dari miliknya untuk orang miskin, dan apabila ada orang yang diperasnya, ia akan menggantinya empat kali lipat!

Sunggu berbeda bukan? Betapa gambaran negatif tentang seseorang yang didapat dari kabar burung, dari berita yang beredar, ternyata begitu berbeda dengan kenyataan. Lewat sapaan yang personal, Tuhan Yesus menunjukkan bahwa Ia mengenal siapa Zakheus yang sesungguhnya. Dan sapaan itu membuat Zakheus lebih berani lagi menunjukkan jatidirinya yang sebenarnya.

Marilah kita belajar untuk melakukan sapaan personal dan mengenal satu sama lain, agar kita terbebas dari beban prasangka, dan kita membebaskan orang untuk menjadi dirinya dengan lebih baik.

 

 

Categories
Renungan

Renungan Warta – 20 Oktober 2019

Jangan Lupa Bersyukur!

Lukas 17: 11-19

Dalam perjalanan menuju Yerusalem, Tuhan Yesus menempuh rute melintasi perbatasan Samaria dan Galilea. Kedua kota ini merupakan kota yang dianggap “terbuang”. Samaria dianggap buangan karena orang Samaria secara religious dipandang rendah oleh orang Israel. Dan Galilea dipandang rendah karena posisi mereka secara ekonomi yang lemah dibandingkan kota-kota lainnya.

Menariknya, di antara kedua kota yang dipandang “terbuang” ini Tuhan Yesus berjumpa dengan sekumpulan orang yang lebih “terbuang” lagi! Sepuluh orang kusta, yang umumnya dikucilkan dari pergaulan masyarakat sehingga mereka membentuk kumpulan dengan sesama orang kusta lainnya. Mereka berkumpul di perbatasan (pinggiran) dua kota tersebut, karena peraturan agama mengharuskan mereka memisahkan diri dari masyarakat (Imamat 13: 45-46).

Ketika mereka melihat Tuhan Yesus, mereka berteriak memohon pertolongan-Nya. Dan Tuhan Yesus memandang mereka serta memerintahkan mereka untuk pergi memperlihatkan diri kepada imam. Orang yang menderita kusta, harus diperiksa oleh imam, dan jika imam tidak menemukan lagi tanda-tanda bekas kusta maka ia akan dinyatakan tahir (bersih) sehingga dapat bergaul kembali di tengah masyarakat.

Mereka pun pergi melakukan yang Tuhan perintahkan. Namun di tengah jalan, ada satu orang yang menyadari kesembuhannya. Sepuluh orang itu disembuhkan, namun ada satu yang datang kembali untuk bersyukur kepada Yesus. Sepuluh orang itu melakukan perintah agama, menghadap kepada imam, tetapi hanya satu yang terpanggil hatinya untuk mengucap syukur kepada Tuhan.

Spurgeon memberi komentar terhadap perikop ini:
All ten were willing to do a religious ceremony; that is go to the priest. Only one was filled with true praise and thanksgiving. “External religious exercises are easy enough, and common enough; but the internal matter, the drawing out of the heart in thankful love, how scarce a thing it is! Nine obey ritual where only one praises the Lord.”

Bagaimana dengan hidup kita yang telah merasakan jamahan kuasa kasih Tuhan? Kiranya respon ungkapan syukur kita kepada Allah bukan hanya kita lakukan melalui ritual agama, namun juga dari hati yang dipenuhi dengan syukur kepada-Nya.

 

 

Categories
Renungan

Renungan Warta – 13 Oktober 2019

Usahakanlah Kesejahteraan Kota

Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.
(Yeremia 29: 7)

Beberapa bulan terakhir kita mendengar berita tentang gejolak politik di Hongkong. Massa berjumlah besar berdemonstrasi menentang kebijakan ekstradisi dengan China yang dapat merusak demokrasi di negara tersebut. Di Australia kita juga mendengar berita demonstrasi menuntut agar ada tindakan nyata yang lebih dari pemerintah untuk merespon ancaman kerusakan lingkungan hidup. Di Indonesia kita mendengar berita tentang demonstrasi tentang produk perundang-undangan yang dipandang dapat menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat.

Dari begitu banyak berita seputar politik, sebuah pertanyaan yang kemudian muncul adalah: Lalu dimana suara kita sebagai orang Kristen? Dimanakah posisi gereja terhadap isu-isu publik seperti itu? Seperti kalimat-kalimat diatas, terhadap isu-isu publik yang mempengaruhi kehidupan masyarakat luas betapa sering sikap kita sebagai gereja hanya berhenti pada ‘mendengar’, dan belum ikut terlibat secara nyata.

Lebih sering gereja tidak mempersiapkan warga jemaatnya untuk ikut terlibat dalam karya nyata di ruang publik. Gereja sangat giat dalam mendorong umat untuk berdoa, beribadah, melayani dalam kebaktian, bermusik, ber-saat teduh, membaca Alkitab; namun untuk terlibat lebih jauh di dunia sosial? Kita masih ketinggalan dalam hal ini. Peribadahan gereja seringkali dirancang untuk membangun kesalehan yang bersifat personal, namun sering melupakan kesalehan sosial.

Yeremia 29 merupakan surat yang diberikan kepada umat di pembuangan, yang mengingatkan mereka untuk turut memberkati kehidupan kota dimana mereka berada. Umat dipanggil untuk menjadi garam dan terang dalam dunia; di ruang publik, terhadap isu-isu kemasyarakatan seperti: isu lingkungan hidup, korupsi, keadilan, hak asasi manusia, keserakahan kapitalisme, dan banyak lagi. Semua itu bukan pekerjaan untuk Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) semata, tetapi juga merupakan panggilan bagi kita sebagai pengikut Kristus.

Mari kita mencari dan menemukan cara untuk memberi kontribusi lebih bagi kehidupan berbangsa dan bermasyarakat dimanapun Tuhan telah menempatkan kita! Tuhan memberkati, Amin.

 

Categories
Renungan

Renungan Warta – 6 Oktober 2019

Kasih Setia Tuhan Tak Berkesudahan

Ratapan 3: 19-26
Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya,
selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!
“TUHAN adalah bagianku,” kata jiwaku,
oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya.
TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya,
bagi jiwa yang mencari Dia.

Betapa indahnya ungkapan dari nabi Yeremia yang kita baca dalam kitab Ratapan ini: Tuhan selalu setia mengasihi kita, umat-Nya. Ketika membacanya, kita dapat menemukan ada keyakinan yang begitu besar akan kuasa Tuhan dalam hidup ini, terpancar di dalam tulisan tersebut.

Namun sadarkah kita bahwa kitab Ratapan ditulis oleh nabi Yeremia sebagai respon terhadap kehancuran Yerusalem akibat serbuan bangsa Babilonia sekitar tahun 587 SM. Ketika kita membaca kitab ini, kita akan menemukan gambaran menakutkan tentang kehancuran, kematian, dan kelaparan hebat yang dialami Yerusalem akibat kepungan kerajaan Babilonia. Namun demikian, ditengah-tengah semua hal buruk yang mereka alami, nabi Yeremia justru menaikkan sebuah pujian yang begitu manis kepada Tuhan! (Ratapan 3).

“Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap …” (ayat 21) Firman Tuhan mengingatkan kepada kita bahwa dalam hidup ini kita punya pilihan untuk memberi fokus perhatian kemana! Dan Yeremia meneguhkan umat Tuhan untuk mengimani kasih Tuhan ketimbang larut dalam kedukaan penderitaan.

Penderitaan yang hebat terkadang menggoda kita untuk menyangka bahwa persediaan kasih Tuhan sudah habis, dan memandang hari esok seolah-olah hanya diisi kegelapan. Tetapi kasih setia Tuhan tidak pernah habis, dan selalu baru setiap harinya. Di setiap hari yang baru, akan ada kasih Tuhan yang luar biasa apabila kita bersedia percaya dan menantikannya dalam pengharapan.

Tuhan memberkati kita, Amin.

 

Categories
Renungan

Renungan Warta – 29 September 2019

Empati

 Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu:
“Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!”
(Galatia 5: 14)

Apakah empati? Secara sederhana empati adalah kemampuan untuk turut memahami dan merasakan perasaan yang dialami oleh orang lain. Ada kemiripan antara simpati dan empati. Sekedar untuk menjelaskan lebih lanjut: Jika simpati adalah sebuah perasaan yang dialami secara bersama, misalnya ketika ada kedukaan dan kita yang turut mengenal almarhum ikut bersedih bersama dengan keluarga dan berusaha memberikan penghiburan kepada keluarga yang ditinggalkan. Sementara, empati adalah kemampuan yang lebih dalam lagi daripada simpati, yaitu ketika kita berusaha untuk menempatkan diri pada posisi orang yang sedang mengalami perasaan tersebut.

Dalam hidup bersama, empati sangatlah penting. Ketika kita berusaha memahami posisi seseorang dalam situasi yang sulit, kita akan lebih mampu untuk mentoleransi kesalahan yang orang tersebut perbuat mungkin tanpa dia sengaja, atau situasi-situasi sulit yang membuat seseorang terpaksa melakukan hal-hal yang dipandang buruk. Dan itu membantu kita untuk menunjukkan kasih kepada orang-orang yang cenderung ditolak dan dibuang oleh masyarakat/dunia luar. Dalam sebuah lagunya, lirik lagu Michael Jackson yang terkenal berbunyi: “before you judge me, try hard to love me.”

Hukum kasih yang Tuhan Yesus berikan, dibunyikan kembali dalam surat kepada jemaat di Galatia: “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!” Ada sebuah ajakan untuk menempatkan diri kita pada posisi orang lain, agar kita dapat mengasihi orang tersebut. Dalam salah satu novel pop remaja, “Lupus” karya Hilman pernah dikisahkan tentang seorang anak kecil yang saat bulan puasa justru dengan sengaja minum es mambo (sirup yang dibekukan dalam plastik lonjong) di tengah-tengah keramaian. Saat itu orang banyak justru memandang anak itu sebagai kurang-ajar, mencari ribut, dan tidak menghormati orang yang sedang berpuasa. Namun ternyata, anak itu sebenarnya sedang mencari perhatian, karena kemiskinannya, setiap hari ia merasakan kelaparan. Dan lewat aksinya, ia sedang memberi kritik terhadap orang banyak yang selama ini tidak pernah memperhatikan kelaparan yang dialami begitu banyak anak-anak terlantar di tengah masyarakat.

Empati! Apakah kita punya hati untuk memahami dan merasakan orang-orang di sekitar kita? Sebagai persekutuan, kita dipanggil untuk berempati, agar kita mampu lebih mengasihi saudara-saudari yang Tuhan tempatkan di tengah-tengah kehidupan kita. Amin.

Categories
Renungan

Renungan Warta – 22 September 2019

Respek

Kolose 3: 18-23

“Siap grak! Hormat grak!” Dalam baris-berbaris kita mendengar instruksi ini, yang kemudian dilanjut dengan gerakan mengangkat tangan kanan dan meletakkannya di ujung pelipis sebagai simbol penghormatan yang ditujukan kepada pemimpin upacara, dan kepada bendera nasional. Tetapi sikap menghormati (respek) tampak tidak hanya pada upacara formal, atau ketika kita diberi instruksi saja. Sikap itu akan tampil dalam wujud nyata melalui pikiran, perkataan, dan perbuatan kita sehari-hari apabila kita sungguh-sungguh menghormati sesuatu.

Dalam Kolose 3: 18-23, kita melihat bagaimana respek dalam relasi antar anggota keluarga terwujud. Di dalamnya, kita melihat bahwa hormat-menghormati adalah peran dua arah, bukan hanya menjadi tuntutan dari satu sisi. Ketika isteri diharapkan untuk tunduk kepada suami, maka kepada suami juga ada tanggung-jawab untuk mengasihi isteri dan tidak berlaku kasar kepadanya. Apabila anak diharapkan untuk taat kepada orang-tua, maka kepada orang-tua juga diberi kewajiban untuk menjaga hati anak-anaknya agar tidak menjadi tawar. Ada relasi dua arah dalam penghormatan. Kita tidak bisa sekedar menuntutnya, tanpa terlebih dahulu memberikannya.

Dan Kolose 3 mengingatkan kepada kita bahwa dasar dari semua itu ada dalam Tuhan! Apa makna dari kalimat ini? Kita sedang diingatkan bahwa kita pun sebagai manusia, tidak layak untuk menerima respek dari Tuhan. Sebagai manusia, kita adalah mahluk yang lemah dan rentan jatuh ke dalam dosa. Namun demikian, Tuhan Yesus memberikan penghargaan dan kasih yang luar biasa besar bagi manusia yang hina ini. Ia menebus dosa manusia dengan diri-Nya sendiri. Dengan kata lain, ada respek yang besar dari Tuhan, diberikan kepada manusia yang tidak layak ini.

Itulah dasar utama dari kita untuk saling memberi respek satu sama lain. Bukan sekedar karena mereka layak, bukan karena mereka sudah lebih baik atau lebih hebat. Namun karena Tuhan terlebih dahulu sudah memberi respek kepada manusia yang hina. Dan tindakan Tuhan itu memulihkan hubungan yang rusak karena dosa. Ketika kita mampu berbagi respek satu sama lain, maka kuasa pemulihan Tuhan pun bekerja memperbaiki hubungan kita satu sama lain.

Tuhan memberkati, Amin.