Categories
Renungan

Renungan Warta – 12 September 2021


 

Respect & Intimacy

“Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya,
demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.”

(Mazmur 103:13)


Dapatkah kita menghormati seseorang, ketika kita super akrab dengan tersebut? Atau sebaliknya dapatkah kita menjadi begitu intim dan hangat berhubungan dengan orang yang kita hargai? Seringkali kita kesulitan menyandingkan kedua konsep ini secara berbarengan. Itulah sebabnya gambaran tentang ayah di masa lalu digambarkan sebagai sosok yang kaku, dingin, berjarak, menjaga wibawa, dan sejenisnya. Demi respek! Agar tetap dihormati! Apakah demikian caranya agar kita mendapatkan respek sebagai orangtua atau pimpinan?

Di sisi lain, kita juga melihat bahwa keakraban yang berlebihan juga tidak baik. Seperti perilaku pranking, upaya lelucon dengan cara-cara mempermalukan kepada orang yang dianggap akrab. Terkadang kita ingin menjadi akrab, hangat, dekat, namun ternyata dapat menyebabkan orang kurang menghormati. Jadi bagaimanakah kita menemukan keseimbangan diantara keduanya?

Di dalam Alkitab, kita menemukan jawabannya pada TUHAN yang menggambarkan kasih-Nya seperti kasih bapa terhadap anak-anaknya. Dalam kasih bapa kita menemukan kombinasi dan keseimbangan yang tepat antara respek dan kehangatan (intimacy). Hormat seorang anak terhadap bapanya, tidak boleh menghilangkan kehangatan relasi diantara mereka. Bukankah demikian sepatutnya sikap kita terhadapat Tuhan? Dalam sikap doa misalnya: disanalah satu contoh ketika hormat kita kepada Tuhan berpadu dengan keintiman hubungan kita dengan-Nya. Biarlah kiranya dalam kehidupan keluarga, hikmat Tuhan menolong kita agar semakin mampu menata harmoni antara respek dan intimacy satu sama lain. Tuhan memberkati, Amin.