Kategori
Renungan

Renungan Warta – 21 November 2021


 

Mengatasi Permasalahan

 

(1 Korintus 4: 11-13)


Sebagai seorang pengikut Kristus, rasul Paulus harus menjalani kehidupan yang sarat permasalahan. Sebagaimana disampaikan melalui suratnya kepada jemaat di Korintus: “Sampai pada saat ini kami lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara, kami melakukan pekerjaan tangan yang berat.” (ay. 11-12a) Menjadi pelayan Tuhan justru mendatangkan permasalahan bertubi-tubi bagi dirinya.

Namun yang menarik, Paulus tidak berkeluh-kesah dan mengutuki keadaan dirinya yang tampak malang menurut kacamata duniawi. Sikap iman yang ia tunjukkan, justru menjadi teladan yang sangat indah bagi kita. Seperti yang ia tuliskan kemudian dalam ay. 12b – 13: “Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar; kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah”

Masing-masing orang biasanya sudah memiliki respons spontan ketika bereaksi terhadap suatu perkara. Ketika dibentak, ada yang bereaksi membalas bentakan, ada pula yang memilih untuk menangis. Ketika kaki anda terinjak, ada yang bereaksi dengan menjadi marah, ada pula yang memilih untuk tetap tenang dan bertanya terlebih dahulu sebelum bereaksi lebih lanjut. Cara Paulus bereaksi terhadap problem kehidupan yang ia hadapi, mengajarkan kita untuk menjadi non-reaktif. Caci-maki, justru dibalas dengan kata-kata berkat. Aniaya dan hantaman dari luar, justru dihadapi dengan sikap hati yang bersabar. Difitnah? Menjadi bahan omongan? Paulus belajar untuk menjawab tudingan seperti itu dengan kalimat-kalimat yang ramah.

Bagaimana kita dapat mengubah respon kita dalam menghadapi permasalahan kehidupan? Beberapa prinsip sederhana ini semoga dapat memberkati kita:

  1. Introspeksi: Hadapilah berbagai “serangan” yang ditujukan kepada anda dengan terlebih dahulu melakukan introspeksi diri. Anda tidak selalu benar, dan orang lain tidak selalu salah. Ada kalanya kita membutuhkan “teguran” dari pihak luar untuk dapat mengenali kesalahan yang ada pada diri kita.
  2. Berdamai dengan sesama: Jika anda memang salah, akuilah dan upayakanlah perdamaian. Jika anda tidak salah, tetap upayakanlah perdamaian. Mendamaikan relasi yang retak seringkali jauh lebih bermanfaat dan membawa ketenangan dalam kehidupan kita, ketimbang mempersoalkan siapa yang salah dan siapa yang benar.
  3.  Berdamai dengan keadaan: Terkadang anda telah melakukan introspeksi dan mencoba untuk berdamai. Namun ada hal-hal yang tetap tidak bisa anda ubah. Lalu apa? Terimalah kenyataan itu, accept it, let go dan move on. Ada hal-hal yang di luar kendali kita, dan harus kita hadapi sebagai realita. Bawalah dalam doa dan biarkan Tuhan ikut serta bekerja memperbaiki keadaan pada waktu-Nya.

Semoga kita semakin dimampukan untuk menghadapi berbagai badai persoalan kehidupan dengan berhikmat! Tuhan memberkati. Amin.