Renungan Warta – 29 November 2020

Jalan Panjang Pemulihan

Baptisan Kudus

 “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!”
(Yosua 24: 15b)

Ada begitu banyak hal berharga dalam hidup kita, yang merupakan hasil dari pilihan yang dibuatkan oleh orang-tua kita. Keterampilan bermusik, kemampuan bahasa asing, seringkali merupakan buah dari dorongan orang-tua yang mewajibkan kita untuk mempelajarinya. Atau seperti orang-tua yang pindah keluar negeri, maka ia akan bawa anak-anaknya walaupun mereka belum cukup umur untuk membuat pilihan mereka sendiri. Demikian juga dengan vaksin, yang kita berikan kepada mereka karena kita tahu itu diperlukan untuk keselamatan dan kesehatan mereka.

Itulah yang kita lihat dalam ungkapan Yosua, ketika ia menegaskan pilihan dirinya dan untuk keluarganya untuk beribadah kepada Tuhan. Ikatan perjanjian keselamatan antara Tuhan dengan umat-Nya, berlaku bagi Yosua dan juga keluarganya. Itulah sebabnya, umat Israel harus disunat ketika mereka masih berusia delapan hari. Sunat adalah tanda dan meterai dari ikatan perjanjian umat Israel dengan Allah. Itulah dasarnya, dalam gereja Reformasi kita melaksanakan baptisan kudus anak. Karena mereka juga ikut serta di dalam ikatan perjanjian keselamatan yang Tuhan adakan dengan umat-Nya.

Tetapi tugas utama orang percaya, tidak berhenti pada baptisan saja. Justru setelah baptisan, disitulah kita menjalani tanggung-jawab mewujudkan iman itu. Menyatakan sikap iman seperti yang Yosua lakukan. Juga bagi para orang-tua, ada tanggung-jawab untuk menuntun dan mendidik anak-anak mereka sehingga pada waktunya ketika dewasa mereka bisa mengakui iman dan baptisan yang telah mereka terima pada masa kanak-kanak itu. Amin

.