Renungan Warta – 6 Oktober 2019

Kasih Setia Tuhan Tak Berkesudahan

Ratapan 3: 19-26
Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya,
selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!
“TUHAN adalah bagianku,” kata jiwaku,
oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya.
TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya,
bagi jiwa yang mencari Dia.

Betapa indahnya ungkapan dari nabi Yeremia yang kita baca dalam kitab Ratapan ini: Tuhan selalu setia mengasihi kita, umat-Nya. Ketika membacanya, kita dapat menemukan ada keyakinan yang begitu besar akan kuasa Tuhan dalam hidup ini, terpancar di dalam tulisan tersebut.

Namun sadarkah kita bahwa kitab Ratapan ditulis oleh nabi Yeremia sebagai respon terhadap kehancuran Yerusalem akibat serbuan bangsa Babilonia sekitar tahun 587 SM. Ketika kita membaca kitab ini, kita akan menemukan gambaran menakutkan tentang kehancuran, kematian, dan kelaparan hebat yang dialami Yerusalem akibat kepungan kerajaan Babilonia. Namun demikian, ditengah-tengah semua hal buruk yang mereka alami, nabi Yeremia justru menaikkan sebuah pujian yang begitu manis kepada Tuhan! (Ratapan 3).

“Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap …” (ayat 21) Firman Tuhan mengingatkan kepada kita bahwa dalam hidup ini kita punya pilihan untuk memberi fokus perhatian kemana! Dan Yeremia meneguhkan umat Tuhan untuk mengimani kasih Tuhan ketimbang larut dalam kedukaan penderitaan.

Penderitaan yang hebat terkadang menggoda kita untuk menyangka bahwa persediaan kasih Tuhan sudah habis, dan memandang hari esok seolah-olah hanya diisi kegelapan. Tetapi kasih setia Tuhan tidak pernah habis, dan selalu baru setiap harinya. Di setiap hari yang baru, akan ada kasih Tuhan yang luar biasa apabila kita bersedia percaya dan menantikannya dalam pengharapan.

Tuhan memberkati kita, Amin.