Renungan Warta – 29 September 2019

Empati

 Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu:
“Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!”
(Galatia 5: 14)

Apakah empati? Secara sederhana empati adalah kemampuan untuk turut memahami dan merasakan perasaan yang dialami oleh orang lain. Ada kemiripan antara simpati dan empati. Sekedar untuk menjelaskan lebih lanjut: Jika simpati adalah sebuah perasaan yang dialami secara bersama, misalnya ketika ada kedukaan dan kita yang turut mengenal almarhum ikut bersedih bersama dengan keluarga dan berusaha memberikan penghiburan kepada keluarga yang ditinggalkan. Sementara, empati adalah kemampuan yang lebih dalam lagi daripada simpati, yaitu ketika kita berusaha untuk menempatkan diri pada posisi orang yang sedang mengalami perasaan tersebut.

Dalam hidup bersama, empati sangatlah penting. Ketika kita berusaha memahami posisi seseorang dalam situasi yang sulit, kita akan lebih mampu untuk mentoleransi kesalahan yang orang tersebut perbuat mungkin tanpa dia sengaja, atau situasi-situasi sulit yang membuat seseorang terpaksa melakukan hal-hal yang dipandang buruk. Dan itu membantu kita untuk menunjukkan kasih kepada orang-orang yang cenderung ditolak dan dibuang oleh masyarakat/dunia luar. Dalam sebuah lagunya, lirik lagu Michael Jackson yang terkenal berbunyi: “before you judge me, try hard to love me.”

Hukum kasih yang Tuhan Yesus berikan, dibunyikan kembali dalam surat kepada jemaat di Galatia: “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!” Ada sebuah ajakan untuk menempatkan diri kita pada posisi orang lain, agar kita dapat mengasihi orang tersebut. Dalam salah satu novel pop remaja, “Lupus” karya Hilman pernah dikisahkan tentang seorang anak kecil yang saat bulan puasa justru dengan sengaja minum es mambo (sirup yang dibekukan dalam plastik lonjong) di tengah-tengah keramaian. Saat itu orang banyak justru memandang anak itu sebagai kurang-ajar, mencari ribut, dan tidak menghormati orang yang sedang berpuasa. Namun ternyata, anak itu sebenarnya sedang mencari perhatian, karena kemiskinannya, setiap hari ia merasakan kelaparan. Dan lewat aksinya, ia sedang memberi kritik terhadap orang banyak yang selama ini tidak pernah memperhatikan kelaparan yang dialami begitu banyak anak-anak terlantar di tengah masyarakat.

Empati! Apakah kita punya hati untuk memahami dan merasakan orang-orang di sekitar kita? Sebagai persekutuan, kita dipanggil untuk berempati, agar kita mampu lebih mengasihi saudara-saudari yang Tuhan tempatkan di tengah-tengah kehidupan kita. Amin.