Renungan Warta – 27 Oktober 2019

Tuhan Mengenal Kita

Lukas 19: 1-10

Siapa yang tidak kenal Zakheus? Ketika membaca kisah Lukas, sekilas kita membayangkan sosok manusia yang menyebalkan. Secara fisik, ia tidak menarik: tubuhnya pendek. Secara ekonomi, ia menjadi sumber iri-hati banyak orang karena kekayaannya. Belum lagi jabatannya sebagai kepala pemungut cukai!

Seorang pemungut cukai bukanlah orang sembarangan, karena untuk menduduki jabatan itu seseorang harus memiliki kemampuan menulis, membaca, dan berhitung lebih daripada orang kebanyakan. Selain itu, mereka juga harus memiliki ketrampilan berdiplomasi dengan pejabat pemerintah, maupun dengan rakyat biasa.

Tetapi bagi masyarakat Yahudi di abad pertama, seorang pemungut cukai terutama dibenci karena mereka dipandang sebagai pengkhianat bangsa! Untuk menarik pajak (pajak kepala dan pajak tanah) dari wilayah jajahannya, kerajaan Romawi mempekerjakan orang-orang lokal. Itulah sebabnya pemungut cukai mendapat reputasi yang sangat buruk di tengah masyarakat. Belum lagi, ada sebagian dari mereka yang berperilaku korup, dengan menarik uang lebih besar daripada tarif yang semestinya.

Tetapi apakah Zakheus seburuk kesan kebanyakan orang saat itu? Kalau kita membaca kisah ini kembali, justru kita akan menemukan gambaran yang sebaliknya. Zakheus begitu bertekad untuk melihat Yesus, sampai ia memanjat pohon. Dan ketika Yesus memanggil namanya, betapa ia bersukacita. Bahkan, ia mendedikasikan setengah dari miliknya untuk orang miskin, dan apabila ada orang yang diperasnya, ia akan menggantinya empat kali lipat!

Sunggu berbeda bukan? Betapa gambaran negatif tentang seseorang yang didapat dari kabar burung, dari berita yang beredar, ternyata begitu berbeda dengan kenyataan. Lewat sapaan yang personal, Tuhan Yesus menunjukkan bahwa Ia mengenal siapa Zakheus yang sesungguhnya. Dan sapaan itu membuat Zakheus lebih berani lagi menunjukkan jatidirinya yang sebenarnya.

Marilah kita belajar untuk melakukan sapaan personal dan mengenal satu sama lain, agar kita terbebas dari beban prasangka, dan kita membebaskan orang untuk menjadi dirinya dengan lebih baik.