Renungan Warta – 22 September 2019

Respek

Kolose 3: 18-23

“Siap grak! Hormat grak!” Dalam baris-berbaris kita mendengar instruksi ini, yang kemudian dilanjut dengan gerakan mengangkat tangan kanan dan meletakkannya di ujung pelipis sebagai simbol penghormatan yang ditujukan kepada pemimpin upacara, dan kepada bendera nasional. Tetapi sikap menghormati (respek) tampak tidak hanya pada upacara formal, atau ketika kita diberi instruksi saja. Sikap itu akan tampil dalam wujud nyata melalui pikiran, perkataan, dan perbuatan kita sehari-hari apabila kita sungguh-sungguh menghormati sesuatu.

Dalam Kolose 3: 18-23, kita melihat bagaimana respek dalam relasi antar anggota keluarga terwujud. Di dalamnya, kita melihat bahwa hormat-menghormati adalah peran dua arah, bukan hanya menjadi tuntutan dari satu sisi. Ketika isteri diharapkan untuk tunduk kepada suami, maka kepada suami juga ada tanggung-jawab untuk mengasihi isteri dan tidak berlaku kasar kepadanya. Apabila anak diharapkan untuk taat kepada orang-tua, maka kepada orang-tua juga diberi kewajiban untuk menjaga hati anak-anaknya agar tidak menjadi tawar. Ada relasi dua arah dalam penghormatan. Kita tidak bisa sekedar menuntutnya, tanpa terlebih dahulu memberikannya.

Dan Kolose 3 mengingatkan kepada kita bahwa dasar dari semua itu ada dalam Tuhan! Apa makna dari kalimat ini? Kita sedang diingatkan bahwa kita pun sebagai manusia, tidak layak untuk menerima respek dari Tuhan. Sebagai manusia, kita adalah mahluk yang lemah dan rentan jatuh ke dalam dosa. Namun demikian, Tuhan Yesus memberikan penghargaan dan kasih yang luar biasa besar bagi manusia yang hina ini. Ia menebus dosa manusia dengan diri-Nya sendiri. Dengan kata lain, ada respek yang besar dari Tuhan, diberikan kepada manusia yang tidak layak ini.

Itulah dasar utama dari kita untuk saling memberi respek satu sama lain. Bukan sekedar karena mereka layak, bukan karena mereka sudah lebih baik atau lebih hebat. Namun karena Tuhan terlebih dahulu sudah memberi respek kepada manusia yang hina. Dan tindakan Tuhan itu memulihkan hubungan yang rusak karena dosa. Ketika kita mampu berbagi respek satu sama lain, maka kuasa pemulihan Tuhan pun bekerja memperbaiki hubungan kita satu sama lain.

Tuhan memberkati, Amin.