Renungan Warta – 15 September 2019

shAre: Attention

“Dan marilah kita saling memperhatikan
supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik.”
(Ibrani 10: 24)

Belakangan ini saya merasa orang-orang pada umumnya semakin sulit untuk memberi perhatian, terutama saat berkomunikasi satu sama lain. Dalam pertemuan dengan jumlah orang yang cukup banyak, seperti di ruang rapat, di ruang kelas, ataupun di ruang ibadah, dengan mudah kita melihat beberapa orang memilih asyik dengan aktivitasnya sendiri di layar gadget, atau mencoba untuk berbicara dengan orang di dekatnya. Dalam percakapan dengan orang sekalipun, kebanyakan orang sekarang ini dengan mudah membagi perhatian sambil membalas message di handphone, atau bahkan melihat-lihat kumpulan foto yang muncul di halaman social media. Bahkan saat orang sedang sendirian pun, berjalan kaki di tengah keramaian, atau mengemudi mobil, betapa banyak orang sampai tersandung-sandung karena tidak memperhatikan situasi di sekitarnya.

Akar di balik fenomena ini adalah kecenderungan kita untuk larut pada diri sendiri, keasyikan sendiri, sehingga kita tidak menjadi sadar akan lingkungan di sekitar kita. Padahal, kemampuan untuk memperhatikan tanda-tanda yang terjadi di sekitar kita adalah suatu ketrampilan survival yang sangat penting bagi komunitas manusia. Dan kita dapat menemukan tanda-tanda itu dalam diri orang-orang di sekitar kita juga, andai kita mau meluangkan waktu dan menyimak lebih dalam.

Ketika kita mampu memberi perhatian, maka kemudian kita dapat memberikan respon yang sesuai terhadap keadaan tersebut. Anda mendengar perut anda membuat bunyi-bunyi lucu, barangkali anda sedang diingatkan bahwa sudah waktunya untuk makan. Mata anda semakin terasa berat, anda sedang diberitahu untuk segera beristirahat dan berangkat tidur. Tangan anda terasa semakin panas, apabila bergerak mendekati nyala api. Kemampuan untuk memberi perhatian terhadap tanda-tanda ini membuat kita dapat bertahan hidup, survival. Hal-hal seperti ini mudah untuk disadari, karena ia ada dalam diri kita sendiri.

Namun kemampuan seperti ini juga dibutuhkan untuk survival sebuah komunitas. Kita dapat melihat bahwa ada saudara kita yang sedang sakit, lapar, sedih, marah, bahagia, kecewa, … jika kita mau meluangkan perhatian. Dan sebuah komunitas yang berfungsi dengan baik adalah ketika orang-orang di dalamnya mampu melihat tanda-tanda tersebut, serta memberi respon yang sesuai. Inilah yang menjadi makna dari pesan Ibrani 10: 24 di atas, “marilah kita saling memperhatikan …”

Tuhan memberkati!