Categories
Renungan

Renungan Warta – 28 November 2021


 

Tuhan Mengenal Kita

 

(Lukas 19: 1-10)


Siapa yang tidak kenal Zakheus? Ketika membaca kisah Lukas, sekilas kita membayangkan sosok manusia yang menyebalkan. Secara fisik, ia tidak menarik: tubuhnya pendek. Secara ekonomi, ia menjadi sumber iri-hati banyak orang karena kekayaannya. Belum lagi jabatannya sebagai kepala pemungut cukai!

Seorang pemungut cukai bukanlah orang sembarangan, karena untuk menduduki jabatan itu seseorang harus memiliki kemampuan menulis, membaca, dan berhitung lebih daripada orang kebanyakan. Selain itu, mereka juga harus memiliki ketrampilan berdiplomasi dengan pejabat pemerintah, maupun dengan rakyat biasa.

Tetapi bagi masyarakat Yahudi di abad pertama, seorang pemungut cukai terutama dibenci karena mereka dipandang sebagai pengkhianat bangsa! Untuk menarik pajak (pajak kepala dan pajak tanah) dari wilayah jajahannya, kerajaan Romawi mempekerjakan orang-orang lokal. Itulah sebabnya pemungut cukai mendapat reputasi yang sangat buruk di tengah masyarakat. Belum lagi, ada sebagian dari mereka yang berperilaku korup, dengan menarik uang lebih besar daripada tarif yang semestinya.

Tetapi apakah Zakheus seburuk kesan kebanyakan orang saat itu? Kalau kita membaca kisah ini kembali, justru kita akan menemukan gambaran yang sebaliknya. Zakheus begitu bertekad untuk melihat Yesus, sampai ia memanjat pohon. Dan ketika Yesus memanggil namanya, betapa ia bersukacita. Bahkan, ia mendedikasikan setengah dari miliknya untuk orang miskin, dan apabila ada orang yang diperasnya, ia akan menggantinya empat kali lipat!

Sunggu berbeda bukan? Betapa gambaran negatif tentang seseorang yang didapat dari kabar burung, dari berita yang beredar, ternyata begitu berbeda dengan kenyataan. Lewat sapaan yang personal, Tuhan Yesus menunjukkan bahwa Ia mengenal siapa Zakheus yang sesungguhnya. Dan sapaan itu membuat Zakheus lebih berani lagi menunjukkan jatidirinya yang sebenarnya.

Marilah kita belajar untuk melakukan sapaan personal dan mengenal satu sama lain, agar kita terbebas dari beban prasangka, dan kita membebaskan orang untuk menjadi dirinya dengan lebih baik.

Categories
Renungan

Renungan Warta – 21 November 2021


 

Mengatasi Permasalahan

 

(1 Korintus 4: 11-13)


Sebagai seorang pengikut Kristus, rasul Paulus harus menjalani kehidupan yang sarat permasalahan. Sebagaimana disampaikan melalui suratnya kepada jemaat di Korintus: “Sampai pada saat ini kami lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara, kami melakukan pekerjaan tangan yang berat.” (ay. 11-12a) Menjadi pelayan Tuhan justru mendatangkan permasalahan bertubi-tubi bagi dirinya.

Namun yang menarik, Paulus tidak berkeluh-kesah dan mengutuki keadaan dirinya yang tampak malang menurut kacamata duniawi. Sikap iman yang ia tunjukkan, justru menjadi teladan yang sangat indah bagi kita. Seperti yang ia tuliskan kemudian dalam ay. 12b – 13: “Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar; kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah”

Masing-masing orang biasanya sudah memiliki respons spontan ketika bereaksi terhadap suatu perkara. Ketika dibentak, ada yang bereaksi membalas bentakan, ada pula yang memilih untuk menangis. Ketika kaki anda terinjak, ada yang bereaksi dengan menjadi marah, ada pula yang memilih untuk tetap tenang dan bertanya terlebih dahulu sebelum bereaksi lebih lanjut. Cara Paulus bereaksi terhadap problem kehidupan yang ia hadapi, mengajarkan kita untuk menjadi non-reaktif. Caci-maki, justru dibalas dengan kata-kata berkat. Aniaya dan hantaman dari luar, justru dihadapi dengan sikap hati yang bersabar. Difitnah? Menjadi bahan omongan? Paulus belajar untuk menjawab tudingan seperti itu dengan kalimat-kalimat yang ramah.

Bagaimana kita dapat mengubah respon kita dalam menghadapi permasalahan kehidupan? Beberapa prinsip sederhana ini semoga dapat memberkati kita:

  1. Introspeksi: Hadapilah berbagai “serangan” yang ditujukan kepada anda dengan terlebih dahulu melakukan introspeksi diri. Anda tidak selalu benar, dan orang lain tidak selalu salah. Ada kalanya kita membutuhkan “teguran” dari pihak luar untuk dapat mengenali kesalahan yang ada pada diri kita.
  2. Berdamai dengan sesama: Jika anda memang salah, akuilah dan upayakanlah perdamaian. Jika anda tidak salah, tetap upayakanlah perdamaian. Mendamaikan relasi yang retak seringkali jauh lebih bermanfaat dan membawa ketenangan dalam kehidupan kita, ketimbang mempersoalkan siapa yang salah dan siapa yang benar.
  3.  Berdamai dengan keadaan: Terkadang anda telah melakukan introspeksi dan mencoba untuk berdamai. Namun ada hal-hal yang tetap tidak bisa anda ubah. Lalu apa? Terimalah kenyataan itu, accept it, let go dan move on. Ada hal-hal yang di luar kendali kita, dan harus kita hadapi sebagai realita. Bawalah dalam doa dan biarkan Tuhan ikut serta bekerja memperbaiki keadaan pada waktu-Nya.

Semoga kita semakin dimampukan untuk menghadapi berbagai badai persoalan kehidupan dengan berhikmat! Tuhan memberkati. Amin.

Categories
Renungan

Renungan Warta – 14 November 2021


 

Memohon Hikmat Tuhan

“Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini?”

(1 Raja-raja 3: 9)


Itulah permohonan raja Salomo, seorang yang masih sangat muda dan belum berpengalaman apapun dalam hal politik. Ia masih “hijau”, namun ia bisa membuat pilihan yang bijak. Dalam kisah ini, Tuhan memberikan kepadanya hikmat untuk memimpin sebagai raja Israel, agar ia mampu menimbang perkara dan membuat putusan yang benar. Tetapi sebenarnya, sebelum itu pun, Salomo telah memulainya dengan membuat sebuah putusan yang benar.

Artinya, setiap kita pun punya kapasitas untuk membuat putusan yang benar. Memohon yang benar, dan Tuhan yang kemudian memberkati apa yang kita mohonkan itu. Jadi ada dua sisi dari hikmat Salomo: Ada yang merupakan inisiatif dan sikap awal dirinya sebagai manusia, dan kemudian ada yang menjadi anugerah Tuhan yang dicurahkan kepada dirinya. Dua hal ini saling melengkapi satu sama lain. Selain memohon dari Tuhan, maka kita pun terlebih dahulu perlu berupaya dan mengelola apa yang menjadi permohonan hati kita.

Dari Salomo kita belajar, bahwa permohonan itu terkait erat dengan kesadaran akan panggilan dirinya. Ia akan menjadi seorang raja dengan tangggung-jawab besar, maka ia memohon kemampuan untuk menjalankan tanggung-jawab itu. Yang dipinta bukanlah jalan pintas, atau trik untuk lepas dari beban berat itu. Ia meminta untuk dimampukan oleh Tuhan dalam menjalani panggilannya itu. Dan Tuhan memberikan lebih daripada yang Salomo minta. 1 Raja 3:13, Tuhan berkata “Dan juga apa yang tidak kauminta Aku berikan kepadamu.”

Kiranya kita dimampukan untuk memohon dengan benar kepada Tuhan, dan percayalah Ia akan menyempurnakan apa yang menjadi kebutuhan kita seturut panggilan-Nya. Amin.

Categories
Renungan

Renungan Warta – 7 November 2021


 

Berserah Dengan Cerdik Dan Tulus

“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.”

(Matius 10: 16)


Tuhan mengutus kita seperti domba ke tengah-tengah serigala! Bagaimanakah domba bisa selamat menghadapi kepungan serigala dunia? Serigala adalah binatang ganas, yang mengintai, mengejar, dan menerjam buruannya dengan berkelompok. Lari, tentu domba kalah cepat. Adu otot, tentu domba kalah kuat. Belum lagi serigala memiliki taring yang dapat merobek domba dengan mudah.

Tetapi Tuhan mengajarkan kepada kita untuk jangan takut dan kuatir. Mengapa? Karena kekuatan domba adalah pada perlindungan Sang Gembala, dan Tuhan Yesus adalah gembala kita yang agung. Oleh karena itu, yang Ia minta dari kita adalah waspada dalam ketulusan dan kecerdikan. Apa artinya? Kata waspada disini, diterjemahkan beware … Be aware! Sadarilah … Apa yang perlu kita sadari?

Pertama-tama, sadarilah kita adalah domba. Di tengah tekanan dunia, janganlah kita tergoda untuk menjadi serigala-serigala berbulu domba. Cara kita berjuang bukanlah dengan menggigit dan menerkam, bukan dengan agresi dan adu otot. Tetaplah menjadi domba, walaupun dunia di sekeliling kita adalah serigala yang ganas.

Kedua, sadarilah bahwa kita punya Gembala yang Agung dalam Tuhan Yesus yang setia menjaga kehidupan kita dengan sigap. Kita tidak pernah dibiarkan begitu saja. Ketika kita ikut tuntunan-Nya, maka Ia membawa kita ke padang yang berumput hijau dan berair segar. Ia melindungi kita.

Tanggung-jawab kita adalah untuk menjalani kehidupan dalam ketulusan dan kecerdikan. Tulus adalah perkara hati, dan cerdik adalah perkara akal. Jadi Tuhan menghendaki kita menjalani hidup berserah kepada-Nya dengan hati yang tetap percaya dan akal yang tetap berusaha! Do our best, and let God do the rest. Amin.

Categories
Renungan

Renungan Warta – 31 Oktober 2021


 

Berdoa Bagi Orang Lain

 

(Kejadian 18: 20-32)


Apakah arti istilah “Doa Syafaat”? Dalam bahasa Inggris, istilah ini diterjemahkan menjadi “Intercession Prayer”, yaitu doa yang dinaikkan kepada Tuhan untuk orang/kelompok lain. Jadi doa syafaat adalah doa yang kita panjatkan bukan untuk diri kita sendiri, melainkan untuk kebaikan orang lain.

Dalam kisah ini kita melihat bahwa Abraham berkomunikasi dengan Tuhan tentang Sodom dan Gomora. Karena dosa-dosa mereka yang sangat luar biasa, Tuhan berencana akan menghancurkan kedua kota tersebut. Namun Abraham mengingat Lot dan keluarganya berada di kota itu. Oleh karena itu, Abraham meminta kepada Tuhan agar Ia berkenan mengampuni kota tersebut apabila ada sedikit saja orang benar di dalamnya.

Tuhan Yesus pun menasehati para murid-Nya untuk berdoa bagi orang lain, bahkan orang yang memusuhi kita (bdk. Lukas 6: 27-28). Rasul Paulus ketika menasehati Timotius juga meminta agar ia mendoakan untuk bangsa dan negara (1 Timotius 2: 1-2). Ini adalah contoh-contoh dari doa syafaat.

Doa syafaat tidak terarah secara khusus pada diri kita sendiri. Ia dilakukan dengan menaruh hati terlebih dahulu pada keadaan dan pergumulan yang dihadapi oleh orang/pihak selain diri kita: bisa saja pribadi, keluarga, kelompok, atau bahkan bangsa. Seperti Abraham yang mengingat Lot dalam hatinya dan memohonkan yang baik bagi diri Lot beserta keluarganya, demikian juga dalam doa syafaat kita diajar untuk menaruh hati bagi orang lain dalam doa-doa kita kepada Tuhan. Bersediakah kita mengingat dan mendoakan orang lain dalam doa-doa kita? Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Categories
Renungan

Renungan Warta – 17 Oktober 2021


 

Bekerja dan Berpengharapan

“Maka janganlah kaukatakan dalam hatimu: Kekuasaanku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini. Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, …”

(Ulangan 8: 17-18)


Hidup beriman adalah sebuah keseimbangan antara upaya manusia dengan pengharapan akan pertolongan Allah. Di satu sisi kita bekerja, melakukan yang terbaik sesuai dengan kemampuan kita. Namun di sisi lain kita menyadari bahwa kekuatan kita yang terbatas ini membutuhkan intervensi dan pertolongan dari Tuhan. Ketika kita tidak menyadari pentingnya menjaga keseimbangan dari dua hal ini, maka dengan mudah kita terjatuh pada ekstrim yang salah.

Ekstrim yang satu adalah pandangan bahwa semua sudah diatur dan diberikan oleh Tuhan, sehingga kita hanya perlu meminta dan menerima saja. Apapun yang manusia lakukan, seolah-olah tidak ada dampaknya. Tetapi apakah benar demikian? Ketika Mazmur 127:1 mengatakan “Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya;” apakah itu artinya kita cukup berdoa dan Tuhan yang akan membangunkan rumah bagi kita? Tentu tidak! Di satu sisi usaha manusia adalah keniscayaan, sesuatu yang wajib terjadi.

Ekstrim yang berikutnya adalah pandangan yang menganggap tidak ada peran dan manfaat dari Tuhan, yang penting adalah usaha manusia saja. “Buat apa berdoa, buat apa ibadah, toh saya yang harus cari uang untuk makan, sekolah, dan masa depan?” Dan memang, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat mengecoh manusia sehingga merasa bahwa segala sesuatu ada di bawah kendali manusia. Namun pandangan seperti ini sebenarnya adalah arogansi manusia yang lupa bahwa segala upaya manusia memiliki keterbatasannya. Ada hal-hal yang diluar kendali manusia, dan bahwa Allah turut berperan dalam kehidupan.

Kutipan dari Ulangan 8:17-18 di atas, merupakan sebuah pengingat bahwa upaya manusia (kerja), dan pertolongan Tuhan (pengharapan) adalah saling melengkapi. Dalam usaha manusia, Tuhan berkarya! Oleh karena itu, perhatikanlah ungkapan sederhana ini: “Ingat Tuhan, tapi jangan sampai lupa kerja. Dan ingat kerja, tapi jangan sampai lupa Tuhan.”

Tuhan memberkati, Amin!

Categories
Renungan

Renungan Warta – 10 Oktober 2021


 

Menanam dan Merawat

“Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.”

(1 Korintus 3: 6)


Di dalam surat 1 Korintus 3, rasul Paulus memberikan sebuah teguran pengajaran tentang pertumbuhan di jemaat itu. Apa yang bisa kita pelajari disini:

1. Menanam!
Gereja adalah mahluk hidup, yang terus bertumbuh dan berkembang menjadi lebih baik. Namun semua itu harus diawali dengan sebuah tindakan, sebuah komitmen untuk mulai menanam sesuatu. Ketika kita menghendaki sebuah perubahan, rindu ingin memetik buah-buah yang baik dari kehidupan jemaat kita, maka marilah kita berkomitmen untuk “menanam” sedari sekarang. Mulailah suatu perubahan yang positif, untuk bersedia hadir tepat waktu, untuk menjaga keramahan, untuk bersikap baik terhadap sesama… semua yang baik itu harus dimulai dari sekarang apabila kita berharap menikmati hasilnya.

2. Berproses menjadi lebih baik!
Seperti bayi yang hanya bisa mencerna susu, ketika beranjak dewasa ia beralih ke makanan padat. Demikian pula dengan pertumbuhan kita. Seiring pertumbuhan, maka kita akan belajar mengolah dan menghadapi tantangan yang lebih besar, tuntutan yang lebih sukar, ujian yang lebih berat. Namun itu tidak mematikan, karena kita belajar mampu untuk mengelola semua itu demi kebaikan bersama kita.

3. Kerjasama
Apolos, Paulus, mereka adalah para pelayan Tuhan, yang bekerja-sama merawat kehidupan jemaat. Gereja tidak boleh terpecah-belah hanya karena ego dan agenda pribadi para tokoh di dalamnya. Itulah sebabnya, kita semua dipanggil untuk bahu-membahu merawat kehidupan jemaat Tuhan. Agar kita bisa menghasilkan buah-buah yang memberkati orang di sekitar kita.

4. Pertumbuhan adalah berkat Tuhan
Dan pada akhirnya, ijinkanlah Tuhan memberkati segala usaha kita bersama. Manusia boleh menanam dan merawat, namun anugerah pertumbuhan, buah-buah yang baik, itu adalah berkat yang Tuhan berikan kepada kita. Artinya, usaha kita ada batasnya. Janganlah kita memaksakan pertumbuhan sesuai yang kita kehendaki semata. Ijinkanlah Tuhan membentuk dan mengarahkan kita sesuai dengan rencana-Nya agar kita boleh bertumbuh menjadi jemaat yang membagikan berkat-Nya.

Selamat menanam, merawat, dan merasakan pertumbuhan dari Allah.
Tuhan memberkati!

Categories
Renungan

Renungan Warta – 3 Oktober 2021


 

Duka Perpisahan

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.”

(Roma 8: 38-39)


Tidak ada satupun yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah! Inilah penghiburan terbesar kita sebagai orang percaya. Baik hidup maupun mati, kita semua tetap berada di dalam naungan kasih Bapa. Kedukaan adalah salah satu emosi yang paling kuat dialami oleh manusia. Pada satu titik dalam kehidupan, kita akan mengalami duka perpisahan, atau kesedihan hebat akibat kehilangan orang yang kita kasihi.

Wahyu 21: 4, Firman Tuhan mengingatkan kita pada janji-Nya. Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.” Akan tiba waktunya, semua kedukaan itu akan sungguh dihapus oleh Tuhan. Ketika kita semua berada bersama dalam rumah Bapa.

Ada begitu banyak penghiburan dalam Firman Tuhan bagi orang percaya, yang mengingatkan kepada kita bahwa kematian bukanlah titik akhir hidup ini. Ketika kita mengalami kedukaan hebat, tentu ada perasaan kaget, tidak terima, luka, bahkan merasa jatuh ke titik terendah. Namun dalam pengharapan iman kepada-Nya, kita perlu bangkit kembali karena itu semua bukanlah akhir. Itulah sebabnya kita dengan penuh pengharapan dapat bernyanyi, “sampai bertemu, bertemu … Tuhan Allah beserta kita.” Amin.

Categories
Renungan

Renungan Warta – 26 September 2021


 

Burn Out

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia
yang memberi kekuatan kepadaku.”

(Filipi 4: 13)


Dalam 1 Raja-raja 19: 1-21 kita membaca kisah nabi Elia dalam pergumulannya. Ancaman ratu Izebel membuat ia takut, dan melarikan diri. Ia berjalan 40 hari dan malam sampai tiba di gunung Horeb. Tindakan Elia ini sangat aneh, karena sesaat sebelumnya di gunung Karmel, ia baru saja mengalahkan 450 nabi-nabi Baal dengan kuasa Tuhan. Jadi mengapa ancaman seorang ratu Izebel, membuat ia langsung terpuruk ke titik terendah? Inilah gambaran dari burn out, yaitu suatu kondisi ketika tekanan bertubi-tubi membuat seseorang kehabisan energi. Seperti kendaraan kehabisan bahan bakar, ia tidak sanggup lagi melanjutkan apa yang ia kerjakan.

Kita bisa melihat dari jawaban Elia terhadap pertanyaan Tuhan: “Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang; hanya aku seorang-dirilah yang masih hidup, dan mereka ingin mencabut nyawaku.” Merasa seorang-diri, tanpa dukungan, diabaikan oleh orang lain. Lebih baik saya binasa … Pikiran menjadi begitu negatif. Tetapi Tuhan mengingatkan kepada Elia, bahwa Ia tidak meninggalkan seorang diri: Tuhan memelihara, memberi kejernihan, dan mempertemukan dengan orang yang tepat.

Tuhan memelihara: kita melihat Tuhan dengan tidak terduga, memberi makan dan minum kepada Elia di saat ia tidak berdaya. Tuhan memberi kejernihan: ketika Elia merasa seorang diri, Tuhan beritahu kepadanya masih ada 7.000 orang Israel yang tidak tunduk pada Baal. Elia tidak sendirian! Tuhan mempertemukan dengan orang yang tepat: lalu Tuhan menyebutkan orang-orang yang harus Elia urapi dan angkat untuk berbagi peran pelayanannya. Dan dengan semua itu, Tuhan mengingatkan Elia untuk kembalilah ke jalan yang ia tinggalkan. Jangan menyerah, percayalah Tuhan tetap setia menyertai perjalanan kehidupan kita. Tuhan memberkati, Amin.

Categories
Renungan

Renungan Warta – 19 September 2021


 

Mengelola Kemarahan

“Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa:
janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu
dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.”

(Efesus 4: 26-27)


Kita semua pasti pernah marah. Sama seperti rasa sedih, bahagia, takut, atau haru; rasa marah merupakan emosi wajar manusia. Namun demikian, ketika emosi tersebut diekspresikan secara berlebihan, keluar batas, ia menjadi destruktif. Oleh karena itu Firman Tuhan berbicara tentang kemampuan kita mengelola kemarahan, agar kita tidak terjebak pada iblis yang mencari-cari kesempatan menggunakan kemarahan itu menjadi sesuatu yang buruk.

Yakobus 1:19 mengingatkan agar kita “lambat untuk menjadi marah”. Ketika marah, seringkali reaksi spontan menguasai diri kita. Tanpa pikir panjang kita langsung bertindak, yang kemudian menjadi penyesalan. Memperlambat reaction time pada saat kita marah, itulah nasehat Firman Tuhan. Tidak mudah, namun itu penting agar kita dapat menata hati, memikirkan konsekuensi, dan menemukan alternative solusi bersikap.

Kita harus belajar untuk mampu marah dengan tepat. Sederhananya, marah kita haruslah:

  • Tepat sasaran: Jangan semua kena semprot amarah kita.
  • Tepat waktu: Kita perlu tahu kapan waktu untuk marah, dan janganlah terus mengungkit kemarahan yang telah lama berlalu.
  • Tepat batas: Jangan semua topik kita angkat dan ungkit ketika kita marah. Fokuslah pada isu yang menjadi pokok perhatian saat itu.
  • Tepat tujuan: Jangan marah sekedar karena ingin melampiaskan emosi. Tetapi tujuan marah adalah karena ada sesuatu yang perlu kita luruskan dan koreksi.

Kiranya dalam hikmat Tuhan, kita semakin mampu mengelola kemarahan. Tuhan Yesus memberkati. Amin.