Indonesian congregation within the UCA in Western Australia
(+618) 93378878

Testing 001 add new post

Testing 002 text

<script type=”text/javascript”>
document.write(‘<b>Hello World</b>’);
</script>

GKI Perth Choir Visited Nursing Homes

GKI Perth Choir Visited Nursing Homes

The Serafim Choir Singing at Amana Living, Sundowner Centre

The GKI Perth choir, Serafim, conducted another visits to nursing homes last Saturday, the 12th of May 2012.

The choir visited two of Amana Living nursing homes, Dorothy Genders in Mosman Park and Sundowner Centre in Stirling, which both of them were also visited last year.

This event is part of the church’s annual program which has been held since 2006, with approximately two visits every year, including a Christmas caroling in early December to several nursing homes in Perth.

Mr Ari Supomo, Coordinator of the church’s social activity for the Committee of The Elders, said the main purpose of this service is to share and to experience God’s love with the nursing home residents.

He also added that this visit is not only intended for carrying out the program of the Liturgy Commission, but is also aimed to strengthen the fellowship between the choir members.

The past two nursing home visitations in 2011 were a Christmas caroling and another visit during the Easter season.

Every visit consists of a singing performance and a time for fellowship with the residents.

The Amana Living Residents

 

The Amana Living Senior Chaplain, Rev. David Atkinson said the residents in both of the nursing homes really enjoyed the choir’s visit.

“I think it’s really wonderful, it’s really appreciated by the residents. They enjoy singing very much. And I find that your church choir brings a great deal of life and vitality, and the sense of the presence of God”.

The residents are looking forward to welcoming the choir’s next visits.

 

 

Prisma Kinanti

Perayaan Paskah 2012

Untuk memperingati kebangkitan Kristus, serangkaian perayaan Paskah dilangsungkan GKI Perth minggu lalu.

Dimulai pada hari Kamis Putih, ibadah Taize ini diiringi lagu-lagu yang diulang belasan kali, nyala lilin yang menerangi ruangan, dengan memusatkan perhatian ibadah pada salib dan alkitab yang terbuka di tengah-tengah ruangan.

Bertempat di hall belakang gereja, ibadah gaya taize ini dirancang dengan tujuan untuk menolong jemaat merefleksikan peristiwa-peristiwa besar yang terjadi pada malam sebelum Yesus ditangkap di taman Getsemani.

Sementara itu, kebaktian Jumat Agung juga dilangsungkan keesokkan harinya untuk memperingati peristiwa penyaliban Kristus.

Lain dari biasanya, kebaktian kali ini juga menampilkan drama singkat percakapan Pontius Pilatus dengan istrinya tentang pembebasan Barabas dan penyerahan Yesus untuk disalibkan, untuk menjadi perenungan jemaat.

Pada hari Minggu Paskah, selain kebaktian Paskah di gereja, Uniting Church in Australia juga mengundang jemaat GKI dan gereja lainnya untuk mengikuti Easter Sunrise Service.

Seperti namanya, Easter Sunrise Service ke-55 yang dilangsungkan di Roe Garden, Kings Park tersebut dimulai pada saat matahari mulai terbit.

Paduan Suara Serafim melayani dalam Easter Sunrise Service

Dalam kotbahnya, Rev Don Dowling sempat menjelaskan bahwa terbitnya matahari menandakan hari yang baru, seperti kebangkitan Kristus yang membawa harapan baru bagi kita.

Selain The Salvation Army Orchestra yang mengiringi lagu-lagu ibadah, paduan suara GKI Perth juga turut berpartisipasi dengan menyanyikan lagu All of These dan Amen.

Perayaan Paskah yang dilangsungkan setelah itu, juga menghadirkan drama dan pembagian telur oleh anak-anak sekolah minggu kepada jemaat.

Dengan mengangkat tema, Tuhan Yang Bangkit, panitia Paskah berharap agar kiranya kuasa kebangkitan Tuhan membangkitkan semangat pelayanan kita bersama.

 

Prisma Kinanti

Sunday Service

GKI Perth kini telah melangsungkan kebaktian kedua sejak awal Maret  2012 lalu.

Dimulai pada pukul 12.30 setiap minggunya, kebaktian yang dilayani dalam bahasa Inggris ini memiliki format yang sama dengan kebaktian pertama.

Sunday Service bertujuan untuk melayani jemaat Indonesia yang lebih fasih berbahasa Inggris dikarenakan telah lama tumbuh di Perth, mixed-marriage couple dan masyarakat sekitar gereja diluar orang Indonesia yang lebih nyaman beribadah dalam bahasa Inggris.

Selain itu, guru sekolah minggu yang melayani dalam waktu yang bersamaan dengan kebaktian pertama, dapat mengikuti ibadah kedua ini.

Sejak pertama kali diadakan, Sunday Service telah mendapat respons yang cukup baik dari jemaat, khususnya guru sekolah minggu.

Namun demikian halnya, beberapa kendala masih sering dihadapi.

Penatua Albert Ishak mengungkapkan, jumlah jemaat yang hadir dan petugas kebaktian menjadi perhatian utama.

“Jumlah jemaat kurang banyak dan mungkin lebih baik jika lebih banyak yang mau melayani di ibadah kedua,” tuturnya.

Dalam beberapa waktu kedepan, Sunday Service diharapkan dapat melayani jemaat dalam jumlah yang lebih banyak.

 

 

 

Prisma Kinanti

Camp PPR 2012

Persekutuan Pemuda Remaja (PPR) baru saja mengadakan camp tahunan pada 23-25 Maret lalu.

Dengan tema yang berbeda setiap tahunnya, Camp PPR mengangkat ‘We Are Family’ sebagai tema tahun ini.

Bertempat di Camp Wattle Grove,  Armadale, camp yang diikuti oleh sekitar 30 orang ini bertujuan untuk membangun kedekatan antar anggota PPR sebagai bagian dari keluarga Allah.

“Tujuan camp kali ini untuk menumbuhkan rasa kekeluargaan dan saling memiliki, terkhusus anggota PPR.  Tetapi juga untuk belajar lebih dalam makna keluarga Allah dan ketika kita menjadi bagian di dalamnya,” tutur Devina, pembina Camp PPR 2012.

Walaupun jumlah peserta camp tahun ini terbilang jauh lebih sedikit dibandingkan tahun-

tahun sebelumnya, namun demikian tidak mengurangi semangat mereka.

Camp PPR Tree

Camp PPR Tree

Antusiasme tersebut dapat dilihat dari keikutsertaan peserta di setiap session dan games yang diadakan.

Sesuai dengan tema ‘We Are Family’, pohon menjadi icon camp yang merepresentasikan keluarga Allah.

“Walaupun tidak terlalu banyak yang datang, tapi pohon yang ada represents what had happened in camp, dan kita berharap setelah camp pun bisa terus bertumbuh,” tambah Devina.

Disisi lain, Camp PPR meninggalkan kesan tersendiri bagi setiap pesertanya. Seperti Kezia, yang baru tinggal beberapa minggu di Perth, merasakan kehangatan keluarga lewat kebersamaan di camp pertamanya ini.

“Saya senang bisa ikut Camp PPR. Suatu kesempatan untuk lebih kenal dan dekat sama anak-anak PPR lainnya. Setelah ikut camp, saya merasa jadi punya keluarga baru disini. Merupakan sebuah pengalaman juga bagi saya untuk bisa ikut Camp PPR ini, karena nuansanya berbeda dengan retreat di Indo. Saya juga mendapat pelajaran rohani yang berharga selama camp.  Walau jauh dari rumah dan orang tua, tapi saya tetap mendapat makanan rohani disini,” ujarnya.

Dengan persiapan yang berlangsung selama kurang lebih 4 bulan, acara demi acara berlangsung dengan lancar.

Keterlibatan para peserta juga turut mendukung kesuksesan camp PPR kali ini.

 

Peserta Camp PPR 2012

 Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang,  melainkan kawan sewargadari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga  Allah. – Efesus 2:19

 

 

Prisma Kinanti