Renungan Warta – 25 Agustus 2019

Hidup Orang Kristen

1 Petrus 4: 7-11

Dalam dunia kerja kita mengenal istilah corporate culture, yaitu sebuah budaya, cara berpikir, gaya berperilaku yang menjadi ciri khas suatu lembaga. Sebuah ethos yang membedakan kita dari yang lainnya. Bagaimana dengan orang Kristen? Tentu ada hal yang seharusnya mencirikan kehidupan orang Kristen apabila dibandingkan dengan masyarakat pada umumnya!

Alkitab dipenuhi dengan berbagai petunjuk mengenai bagaimana kita harus berperilaku, the do and don’ts! Bacaan kita kali ini secara khusus memberi penekanan terhadap beberapa hal yang patut menjadi ethos orang Kristen:

  1. Mementingkan Berdoa (ayat 7)
    Doa merupakan sebuah disiplin yang perlu kita latih dan kondisikan dalam hidup ini. Di tengah kesibukan aktivitas sehari-hari, di tengah tuntutan jadwal kerja dan relasi sosial yang tiada habisnya, Firman Tuhan mengingatkan kita untuk mampu menenangkan diri untuk sujud dalam doa.

  2. Atas Dasar Kasih (ayat 8-10)
    Kasih harus menjadi dasar dari tindakan-tindakan kita terhadap orang lain. Orang Kristen mungkin melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh orang-orang lain, namun satu hal yang harus menjadi ciri khas utamanya adalah: orang Kristen harus melakukannya atas dasar kasih! Inilah sebabnya Firman Tuhan mengatakan bukan sekedar mengasihi, tetapi kasihilah dengan sungguh-sungguh. Bukan sekedar memberikan tumpangan, tetapi berilah tumpangan dengan tidak bersungut-sungut! Inilah added value yang kita berikan kepada dunia, yaitu ketika kita melakukan karya atas dasar kasih.

  3. Demi Kemuliaan Tuhan (ayat 11)
    Satu lagi pembeda paling besar dalam hidup orang Kristen adalah dalam hal untuk siapa seseorang melakukan sesuatu. Ketika seseorang bernyanyi di atas panggung, barangkali ia melakukannya agar ia menjadi terkenal dan ternama, dipuji dan memiliki banyak pengikut. Ini bukan berarti orang Kristen tidak boleh menjadi terkenal, atau memiliki penggemar. Namun itu bukanlah tujuan utamanya, karena di balik semua itu yang dimuliakan haruslah Tuhan sendiri!

Semoga sebagai pengikut Kristus, kita boleh memiliki ethos yang demikian dalam kehidupan kita dimanapun kita berada. Tuhan memberkati.

Renungan Warta – 18 Agustus 2019

Kemerdekaan

Saudara-saudaraku yang kekasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa.

(1 Petrus 2:11)

Merdeka! Merdeka! Merdeka!

Pekik kemerdekaan bergemuruh menyemarakkan peringatan kemerdekaan di seluruh Indonesia. Semenjak 17 Agustus 1945 sampai saat ini ketika kita merayakan usia bangsa Indonesia yang ke-74 tahun, semangat yang sama masih terus bergema: kita bukanlah orang terjajah, kita bukan budak orang lain, kita adalah bangsa yang berdaulat dan menentukan jalan hidup sendiri.

Di dalam Alkitab, istilah “orang merdeka” umumnya dikontraskan dengan “budak”. Bandingkan dengan Galatia 3:28 “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” Seorang budak tidak memiliki pilihan hidup, ia melakukan apa yang diperintahkan oleh orang lain, pilihan-pilihannya sudah ditentukan oleh pemiliknya, ia tidak merdeka.

Di jaman modern seperti sekarang, kebanyakan orang tidak hidup dalam perbudakan orang lain. Namun, bukankah kita masih dapat melihat ciri-ciri perbudakan dalam bentuk yang berbeda? Seperti kata Firman Tuhan, banyak orang kini justru diperbudak oleh “keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa”. Seorang pemadat diperbudak oleh jerat candu, penjudi diperbudak oleh hasrat kemenangan, pemabuk diperbudak oleh daya pikat botol alkohol. Ada begitu banyak jerat yang berusaha untuk menjadikan manusia sebagai budak-budak jaman modern: jerat pornografi, jerat popularitas, jerat nama baik, jerat gengsi, dan lain sebagainya.

Surat 1 Petrus 2: 16 mengingatkan kepada kita … “Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.” Kita memang telah dimerdekakan dari perbudakan manusiawi, namun kita tetap adalah hamba-hamba Allah. Maksudnya adalah, kita tetap tunduk dan takluk kepada kehendak Allah dalam mempergunakan kemerdekaan ini. Karena ketika kita tidak memandang diri sebagai hamba Allah, maka kita membuka diri untuk berbagai hal lain menjadi “tuan” atas diri kita.

Tuhan memberkati!